“NGURI-URI” Sejarah Tradisi Malam Selikuran

0
397

SOKOPAPAT.COM-Salahsatu keistimewaan bulan Ramadan adalah datangnya malam penuh kemuliaan, atau lazim dikenal dengan malam Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan itu terdapat pada 10 malam terakhir bulan Ramadan. Pada malam tersebut, atas izin Allah para malaikat turun ke bumi untuk memenuhi segala hajat hambaNya hingga menjelang fajar.

Karena keagungan malam Lailatul Qadar, pada masa Kasultanan Demak, ritual menjemput malam penuh kemuliaan itu diabadikan dalam bentuk ritual khusus yang dikenal dengan Malam Selikuran. Dinamakan Malam Selikuran karena ritual itu dilakukan pada malam ke 21 bulan Ramadan, sebagai awal dimulainya menjemput Lailatul Qadar.Tradisi ini kemudian secara estafet dilanjutkan pada masa Kasultanan Pajang hingga masa Kasunanan Surakarta maupun kasultanan Yogyakarta, dengan perubahan sesuai kondisi dan karakter masing-masing kerajaan penerus dinasti mataram tersebut.

Di Kasunanan Surakarta Hadiningrat, kegiatan tradisi malam selikuran secara rutin diselenggarakan dengan melakukan kirab lampu ting dan seribu tumpeng. Acara kirab tersebut pada masa Paku Buwono X dilaksanakan dengan berjalan kaki dari kraton menuju Bonrojo, Taman Sriwedari, sepanjang 3 kilometer.

Sejak saat itulah, tepatnya sekitar tahun 1927 Taman Sriwedari menjadi sangat populer sebagai tempat keramaian malam dengan diselenggarakannya Maleman Sriwedari setiap datang bulan puasa. Pengunjung dari berbagai daerah  sekitar, seperti Klaten, Boyolali, Karanganyar dan Sukoharjo hampir setiap malam memadati kawasan yang merupakan taman bagi keluarga karaton dan terletak di jantung Kota Solo.

Dalam kirab tersebut, ratusan prajurit karaton berjalan menuju Sriwedari, diikuti para punggawa karaton dan abdi dalem sambil memikul 1.000 bungkus nasi tumpeng dan membawa 1.000 lampu ting (lentera).

Sebagian abdi dalem berbaris menabuh gamelan, sementara yang lain melantunkan tembang Macapat Dandhangula, yang diambil dari Serat Wulangreh karya Sunan Pakubuwono IV yang bertutur tentang Al-Qur’an sebagai sumber ajaran sejati serta rahasia malam seribu bulan. Prosesi kirab ini kemudian diakhiri dengan kembul bujana (makan bersama) antara Raja, prajurit, abdi dalem dengan masyarakat luas.

Namun kini kegiatan ritual kirab ini tidak lagi dipusatkan di Taman Sriwedari sejak adanya konflik masalah kepemilikan tanah kawasan tersebut, Pihak karaton mengalihkan penyelenggaraan kirab dimulai Karaton menuju Masjid Agung Surakarta yang berjarak hanya selemparan batu, atau sekitar 300 meter. Sementara penyelengaraan kirab di Sriwedari diselenggarakan oleh pihak Pemerintah Kota Surakarta sebagai bagian dari agenda budaya dan promosi pariwisata.

Sebagai malam istimewa, yang menandai turunnya wahyu pertama dan  diangkatnya Muhammad sebagai nabi dan rasul utusan Allah, tradisi ini sudah selayaknya dipertahankan sebagai simbol penghormatan atas jasa besar Nabi Muhammad dalam syiar agama Islam hingga ke tanah Jawa.

Bila Anda penasaran dan tertarik menyaksikan ritual unik, langka dan eksotik ini, datang saja pada upacara kirab malam selikuran yang akan diselenggarakan pada malam ke 21 bulan Ramadan, atau malam Rabu dini hari, 6  Juni 2018, dengan rangkaian acara seperti tahun-tahun sebelumnya, yang melibatkan segenap abdi dalem Kraton dan masyarakat, Pastikan sensasi dari ritual sakral tersebut sambil berharap berkah kemuliaan malam Lailatul Qadar. /(am)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.