DARI MASJID DHIROR HINGGA MASJID TEROR

0
331

 

 SOKOPAPAT.COM-Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin kaum munafik Madinah pernah mendirikan sebuah masjid yang kemudian dikenal dengan Masjid Dhiror. Sejarah keberadaan masjid itu sejatinya bukan untuk memakmurkan masjid dengan kegiatan ibadah dan syiar agama, sebagaimana fungsi dan tujuan utama pendirian  masjid, yang harus dibangun atas dasar taqwa. Alih-alih menjadi pusat syiar dakwah, masjid ini justru menjadi pusat produksi hoax dan provokasi kepada umat Islam, tempat mereka mengkonsolidasi kekuatan menentang kebijakan Rasulullah sebagai kepala negara. Keberadaan masjid itu justru semakin memperteguh sikap hipokrit yang ditunjukkan Abdullah bin Ubay bersama gerombolannya.

Pada awalnya, Rasulullah, atas permintaan Abdullah bin Ubay,  hendak mengunjungi masjid tersebut. Namun mendadak rencana itu urung setelah turun ayat, yang meminta Rasulullah membatalkan kunjungannya.

Ada apa gerangan? Dalam beberapa riwayat hadis disebutkan, masjid tersebut disinyalir menjadi pusat orang-orang munafik melakukan gerakan pembangkangan atas komitmen bersama di bawah panji Negara Madinah yang telah disepakati oleh semua unsur masyarakat Madinah. Mereka layaknya srigala berbulu domba di tengah kaum muslimin. Dalam redaksinya, Al-Qur’an mendifinisikan masjid dan tujuan pendirian masjid itu dengan jelas :

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِن قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Nyata sekali bahwa pendirian masjid bertujuan tidak baik, mengadu domba, memecah belah umat dan tak sesuai dengan yang digembar-gemborkan sebagaimana sumpah mereka, “Kami ini hanya ingin berbuat baik”, padahal sesungguhnya Allah telah bersumpah bahwa mereka itu berdusta.

Tidak lama setelah turunnya ayat tersebut, Rasulullah memerintahkan kaum muslimin untuk merobohkan bangunan masjid tersebut hingga rata dengan tanah.

 

 Masjid Teror

Dari sekelumit kisah di atas, ada pelajaran yang sangat berharga, bahwa sesuatu yang nampak baik belum tentu baik hakikatnya. Di tengah terjadinya polarisasi umat Islam akibat perbedaan pilihan politik dan tarik menarik kepentingan demi meraih kekuasaan, fenomena kemunculan masjid yang bergeser fungsi hingga menyerupai masjid Dhiror mendadak muncul akhir-akhir ini. Ajakan untuk menjadikan masjid sebagai tempat propaganda politik praktis dan menyebarkan kebencian kepada lawan politik, merupakan bentuk penyelewengan atas fungsi masjid dan berpotensi memecah belah ukhuwah Islamiyah.

Bila sudah demikian, perlunya sikap kewaspadaan kita dalam menjaga kemurnian fungsi masjid agar tidak berubah fungsi menjadi Masjid Teror, dengan cara menyeleksi para da’i maupun khatib. Jika konten ceramahnya berisi caci maki, ujaran kebencian, sumpah serapah hingga teror kepada orang yang berbeda haluan politiknya, tidak selayaknya untuk direkomendasi menjadi khatib atau penceramah di masjid kita. Jangan biarkan masjid kita diubah menjadi masjid Teror, eh Dhiror.  /(am)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.