ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN DAN ANCAMAN IDEOLOGI NEO-KHAWARIJ

0
342

SOKOPAPAT.COM- Sebagaimana firmanNya dalam Al-Qur’an, Allah mengutus Muhammad saw tidak lain untuk menebar rahmat (kasih sayang) bagi semesta alam (QS : Al-Anbiya:107).

Rasulullah sendiri bersabda, “ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti mulia.”

Inilah sesungguhnya konsep dasar ajaran Islam yang kini dinafikan sebagian pemeluknya sendiri. Kemunculan beberapa sekte Islam hingga gerakan purifikasi Islam, seperti ajakan kembali kepada Qur’an dan Sunnah, kini lebih mengemuka dan dalam praktiknya justru merubah wajah Islam seperti monster yang menyeramkan.

Apa sebenarnya yang terjadi ? Mengapa Islam yang ramah dan toleran, sebagaimana dicontohkan Rasulullah, berubah menjadi bengis dan menakutkan ?

Awal Kelahiran Sekte Khawarij. 

Bila menilik ke belakang, sejarah munculnya gerakan Islam radikal telah ada Paska peristiwa Tahkim (arbitrase), yang melahirkan gerakan sempalan dan  dikenal dengan sekte Khawarij. Dampaknya, kepemimpinan Imam Ali terus mengalami guncangan yang tak berkesudahan akibat ulah dan sikap memberontak yang mereka tunjukkan.

Tragedi pembantaian kepada sesama muslim menjadi pemandangan biasa yang mereka tunjukkan sebagai sikap beragama yang berlebihan, kaku dan merasa paling benar. Siapapun yang bertentangan dengan garis politik dan keyakinan yang dianut sekte ini akan dihabisi tanpa ampun.

Peristiwa demi peristiwa yang mengakibatkan keresahan umat itu menjadi alasan kuat,  Imam Ali mengambil tindakan tegas menumpas gerakan politik dan ideologi sesat Khawarij.

Sebelum meletusnya perang di Nahrawain melawan kaum pembangkang (Khawarij), Imam Ali sempat mengutus sepupunya, Abdulloh bin Abbas untuk berdialog dan menyelidiki perangai orang-orang Khawarij dari dekat. Apa yang dilihat oleh Ibnu Abbas tentang orang-orang khawarij? Sungguh sesuatu yang mencengangkan dan tak pernah terbersit dalam pikirannya.

Bagaimana Ibnu Abbas mendiskripsikan tentang ciri-ciri Khawarij?

“Dalam hal ibadah, tak ada yang lebih menakjubkan dari mereka. Pada dahi mereka, terekam bekas sujud yang menghitam. Siang hari mereka berpuasa dan malamnya dihiasi dengan lantunan tilawah Qur’an dan tahajud hingga penghujung malam. Mereka adalah para qari’ dan hafiz Quran. Pada tubuh dan pakaian yang dikenakan menandakan kesederhanaan, bersahaja dan jauh dari sifat-sifat hubbud dunya (cinta dunia).”

Mungkinkah mereka tersesat?”

Sesaat setelah mendengar penjelasan Ibnu Abbas, Imam Ali mencoba mengambil napas dalam-dalam sambil pandangannya menatap di kejauhan, kemudian berkata :

 “Wahai Ibnu Abbas, seandainya tidak ada aku (setelah Rasulullah), maka tak ada seorangpun yang sanggup dan yakin mampu melawan mereka. Tapi cukuplah sebagai bukti kebenaranku, bahwa esok setelah peperangan, tidak lebih 10 orang dari mereka yang masih hidup, dan tidak lebih dari 10 orang pasukanku yang binasa.”

Boleh jadi benar apa kata Imam Ali. Setelah perang Nahrawain usai, hanya 7 orang pasukan Imam Ali yang syahid dan hanya 9 orang pasukan Khawarij tersisa. Tapi kekalahan mereka tak serta merta mematikan ideologi yang mereka anut. Bahkan setelah 14 abad, ajaran mereka kembali subur dan menjadi ancaman global kehidupan manusia.

 

Manusia Terburuk

 Jauh sebelum Perang Nahrawain,  nubuwah tentang datangnya ancaman kaum perusak itu telah ada, sebagaimana pernah diramalkan Rasulullah saw.

Dulu,  di Madinah ada seorang yang jika salat, dia sudah datang sebelum para sahabat datang, dan masih salat saat para sahabat pulang. Kagum atas ibadah orang ini, salah seorang sahabat menceritakan kepada Rasulullah saw.

Saat Rasulullah menyaksikan sendiri, beliau berkata:

 “Aku seperti melihat bekas tamparan setan diwajahnya.”

 Lalu Rasulullah mendatangi orang tersebut dan bertanya,

”Apakah waktu kamu salat, kamu merasa tidak ada yang lebih baik dari dirimu?

“Benar, “ jawab orang tersebut, sambil bergegas masuk ke masjid.

Rasulullah lalu berkata kepada para sahabat,

”Kelak akan muncul kaum dari keturunan orang tersebut. Bacaan al-Quran kamu tidak ada nilainya dibandingkan bacaan mereka. Salat kamu tidak ada nilainya dibandingkan salat mereka, dan puasa kamu tidak ada artinya dibandingkan puasa mereka.

Mereka membaca al-Quran sehingga kamu akan menyangka bahwasanya al-Quran itu milik mereka saja, padahal sebenarnya al-Quran itu akan melaknat mereka. 

 Umatku akan menderita di tangan mereka. Merekalah seburuk-buruknya manusia. Jika aku hidup saat itu, aku akan bangkit melawan mereka”    (HR. Bukhari Muslim).

Ternyata manusia paling buruk dan mengancam keberlangsungan kehidupan bukanlah kaum atheis, kaum pagan, non muslim maupun para penyembah berhala. Manusia itu menurut Rasulullah justru orang-orang yang ahli ibadah, tekun baca Al-Qur’an, rajin salat dan puasa tapi merasa paling syar’i dalam ibadahnya dan menafikan yang lain.

Mereka beranggapan salat kita tidak sebanding dengan salat mereka, puasa kita tidak ada apa-apanya dibandingkan puasa mereka dan di saat bersamaan mereka mengkafirkan siapapun yang tidak sependapat dengan mereka. Bahkan mereka tak segan-segan menumpahkan darah siapapun yang berseberangan dan berbeda amaliah ibadah dengan mereka.

Mereka kini benar-benar nyata ada di sekitar kita. Dengan berbagi atribut dan simbol agama yang kental, kehidupan sosial dan penampilan yang khas serta beberapa ciri khusus yang melekat sebagaimana sabda Rasulullah. Maka jika Anda melihat ciri-ciri orang sebagaimana yang disampaikan Rasulullah, berpenampilan agamis dan berjidat hitam karena banyak sujud,  Anda tidak perlu berdecak kagum terlebih dahulu. Perhatikan, apakah dia mudah mengkafirkan, membid’ahkan, menyesatkan orang lain atau merasa kelompoknya yang paling baik?

Jika jawabannya iya, bisa jadi mereka itulah kaum neo-khawarij. Mereka adalah manusia yang paling buruk. Kaum yang merasa paling suci dan paling baik inilah yang pernah diperangi Imam Ali di Nahrawain. Ajaran mereka tidak pernah mati, dan puncaknya lahir kembali di jantung Timur Tengah dalam wujud lain tapi berperangai sama.

Kita akan menjumpai mereka dalam bentuk beraneka, ada yang halus, santun hingga bengis, tapi muaranya sama. Ada Al-Qaeda, HT,  ISIS, IM di Timur Tengah, ada Taliban di Asia Tengah atau Boko Haram di Nigeria hingga gen dan turunannya yang tumbuh subur di Indonesia. Semuanya penganut Islam puritan. Mereka menyebutnya sebagai kaum Muwahidun, atau orang awam lebih mengenal dengan stempel Wahabi.

Beberapa tahun terakhir Timur Tengah telah porak poranda oleh ulah mereka lewat jalur kekerasan, seperti yang terjadi di Libya, Irak maupun Suriah. Kebengisan kaum khawarij dahulu terwarisi oleh mereka dalam mengeksekusi siapapun yang berseberangan dengan cara-cara tak manusiawi.

Sementara lewat jalan halus, propaganda mereka didukung rezim penguasa beberapa negara teluk, seperti pengakuan salahsatu Pengeran putra mahkota negri di kawasan teluk, yang menyebarkan parasit ideologi ini –atas desakan Barat, sebagaimana dilansir ALQUDS.CO.UK,  ke seluruh penjuru dunia. Muaranya sama, merusak tatanan dunia global menuju kehancuran.

Kita menyayangkan cara keji mereka yang mengatasnamakan Islam. Nafsu mendirikan Daulah Islam tapi dengan cara melanggar prinsip-prinsip Islam yang paling dasar. Membunuh orang tua, wanita dan anak-anak, merusak masjid, gereja dan tempat ibadah lain, bahkan dalam kondisi perang sekalipun, yang merupakan larangan dalam Islam, tak lagi mereka gubris.

Mereka selalu menyeru dengan jargon “Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah” atau “Amar Ma’ruf Nahi Munkar”, tapi dengan melanggar etika dan norma-norma Islam, seperti meneror, merusak, memfitnah, menebar kebencian, meremehkan hingga mengklaim sebagai pemilik kebenaran.

Sepak terjang mereka yang sering menimbulkan kegaduhan, kekacauan dan merusak sendi-sendi kehidupan sosial, mendapat reaksi dari beberapa ulama, seperti Syaikh Ali Jumuah, ulama besar al-Azhar dan Grand Mufti Kairo, yang pernah mengatakan :

“Kaum Takfiri (mereka yang suka mengkafirkan) adalah musuh kemanusiaan.”

Hari ini, sinyal-sinyal keberadaan mereka nyata ada di sekitar kita, bahkan bisa jadi tetangga, kerabat dan orang dekat kita telah terjangkit virus ini.

Jumlah mereka mungkin belum seberapa, tapi pekik takbir mereka seperti hendak menelan bumi. Jika diberangus, mereka akan berlindung di balik HAM. Mereka anti demokrasi dan menganggap pemerintah NKRI berdasar Pancasila sebagai negara Thoghut yang wajib diperangi.

Sebagai warga negara yang baik, sudah saatnya kita mengambil sikap tegas, tidak cukup sekadar waspada dan defensif. Ada kalanya perlu memberi perlawanan dengan berbagai bentuk sikap tegas, membendung pengaruh buruk yang mereka sebarkan, baik melalui media sosial maupun di berbagai lini kehidupan. Inilah jihad paling mendesak bagi umat Islam dalam  menjaga dan merawat Islam dari tangan-tangan kotor berselubung Islam, demi mengembalikan ajaran Islam yang ramah, toleran dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. /(am)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.