MUDIK ; Merindukan Jalan Kembali Menemukan Jatidiri

0
177

Ket. Foto : Dokumen Antara.

SOKOPAPAT.COM- Sepekan menjelang lebaran akan ada mobilitas besar, terutama penduduk urban yang bersiap menjalani ritus tahunan bernama mudik. Siapapun tak ketinggalan, meski makna mudik bagi setiap orang tentu berbeda satu sama lain.

Bagi sebagian besar masyarakat kita, mudik tidak lagi sekadar tradisi. Meski telah menjadi gaya hidup dan ekspresi diri tentang keberhasilan yang dicapai seseorang dalam menaklukan kerasnya persaingan hidup, makna sakral mudik masih lebih dominan, yaitu mereka yang memaknai mudik sebagai laku ritual penting, menemukan jatidiri setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Inilah sesungguhnya makna mudik yang harus dipahami, bahwa setiap yang hidup pada akhirnya akan kembali kepada sumber dari segala sumber kehidupan, Allah swt.

Hakikat makna ritual mudik inilah yang bisa menggugah kesadaran seseorang tentang jatidiri dan asal usul. Kampung halaman, kampung kelahiran, orangtua, sanak famili dan orang-orang tercinta tak ubahnya seperti oase, yang tidak sekadar mampu mengembalikan jiwa kembali kepada fitrah, tapi juga memberi energi baru menyongsong kehidupan yang semakin keras dan penuh risiko.

Kerasnya kehidupan modern benar-benar menguras habis jiwa dan hati setiap orang dari rasa empati, peduli dan belas kasih kepada sesama. Kesuksesan hidup yang diraih dan gelimang harta yang diperoleh pun tak mampu membebaskan seseorang dari belenggu keinginan syahwat dunia yang terus menggoda.

Itulah yang membuat setiap orang merasa perlu mudik buat menumpahkan segala keluh kesah dan melepaskan kepenatan dari rutinitas yang menjemukan. Bertemu orangtua, meski sudah renta atau bahkan telah berujud pusara, serasa menemukan kekuatan baru. Bersua banyak orang dan memohon doa dari mereka, seakan mampu membasahi relung jiwa yang hampa. Kesahajaan mereka telah meluruhkan, meruntuhkan dan mengalahkan kesombongan kita. Apa yang kita miliki menjadi tak berarti dibanding kekayaan hati orang-orang kampung yang setiap saat menikmati kebahagiaan meski dalam keterbatasan hidup.

Mudik telah mengajarkan banyak hal tentang makna hidup sesungguhnya. Dan makna kembali kepada fitrah sudah seharusnya membuat kita mengingat dari mana kita berasal dan ke mana akan kembali. Itulah yang akan merubah kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat bagi sesama.

Bila Anda tidak berkesempatan melakukan perjalanan mudik, maka sesungguhnya mudik ada di dasar hati yang paling dalam, saat kita menyadari akan hakikat hidup, saat hati kita bisa menikmati luruh menyatu dengan Sang pemberi kehidupan dalam dekapan cintaNya. /(am)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.