BATALION A3W “SELAMATKAN” PESANTREN TREMAS

0
633

Salah satu legenda pasukan yang terkenal di dalam Divisi Siliwangi (kemudian menjadi Kodam Siliwangi), yaitu Batalion A3W. Lazimnya batalion pada saat itu melekat pada nama komandannya. Batalion A3W atau AW3, identik dengan AW alias Achmad Wiranatakusumah. A3W sebenarnya kode radio, “Ajax en dree Williem”. Batalion ini juga mempunyai nama lapangan “Siluman Merah”. Sebuah nama yang terdengar seram, tapi itulah pilihan yang lumrah pada era revolusi. Di antara prestasi pasukan ini adalah “menyelamatkan” masa depan pesantren Tremas, ketika mereka membebaskan Pacitan dari cengkeraman pasukan kelompok kiri, pascaproklamasi “Republik Sovyet Indonesia” di Madiun (18/9/1948). Kedudukan Tremas sangat dihormati di kalangan pesantren. Kini nama Pesantren Tremas semakin populer setelah disebut sebagai tempat kelahiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

 

Batalion A3W

Achmad Wiranatakusumah adalah salah seorang putra Bupati Bandung R.A.A. Wiranatakusumah dari ibu R.A. Sangkaningrat. Ia lahir pada 11 Oktober 1925. Di antara kawan sebayanya ia dipanggil Aom Achmad. Sejak muda ia aktif di kepanduan, berlatih baris-berbaris di halaman pendopo kabupaten. Saat Jepang mulai menduduki Bandung, Achmad memergoki pasukan Belanda yang membuang senjata dan seragam ke sungai Cikapundung. Setelah tentara Belanda menjauh, ia bersama kawan-kawannya segera lompat ke sungai dan mencari senjata buangan itu, lalu ia simpan di  tempat tersembunyi. Hal itu terus ia lakukan tanpa ada yang tahu. Kemampuannya menjaga rahasia ini rupanya sudah menjadi bakat bawaannya. Tak mengherankan jika di kemudian hari ia menyukai bidang intelijen.

Setelah kemerdekaan, ketika pembentukan laskar tumbuh marak di Kota Bandung, pasukan Achmad segera tampil menonjol karena memiliki persenjataan yang terbilang komplit. Ia tampil sebagai natural leader yang dihormati. Ia juga disegani karena mempunyai anggota pasukan yang loyal. Dalam hal ini, posisnya sebagai anak bupati ikut berpengaruh. Ia dikenal cerdik, belajar otodidak, menguasai bahasa Belanda dan Inggris. Tidak semua anak menak mau jadi tentara dan ikut bergerilya. Oleh karena itu, pilihan hidup Achmad sangat dihargai anak buahnya. Untuk melengkapi persenjataan pasukan, ia bahkan rela menjual tanah warisan dari ibunya di Sumedang untuk dibelikan senjata.

Saat menghadapi agresi militer Belanda pertama (21/7/1947), Yon A3W bergerak di wilayah selatan Bandung, ikut mempertahankan wilayah basis yang meliputi Soreang, Ciwidey, Banjaran, dan Majalaya. Mereka mengambil markas di Barutunggul, Ciwidey. Sebagai konsekuensi perjanjian Perjanjian Renville (17/1/1948), bersama pasukan Siliwangi yang lain, Yon A3W berhijrah ke ibukota perjuangan di Yogyakarta. Mereka mengambil markas di Pabrik Gula Beran, Sleman. Setelah kebijakan Re-Ra (restrukturisasi dan rasionalisasi), maka Batalion A3W berada di bawah Brigade XII Divisi Siliwangi. Sebagai komandan, Mayor Achmad dibantu oleh Dingdung Suriadinata sebagai kepala staf dan ditopang oleh empat komandan kompi, yaitu Poniman, Soemitro, HR Dharsono, dan Alex Prawiraatmadja.

 

 “Menyelamatkan” Tremas

Setelah menerima perintah pembebasan Madiun, batalion A3W pun bergerak dengan rute Yogyakarta-Solo-Tawangmangu-Sarangan-GorangGareng-Ponorogo-Pacitan. Rute tersebut sesuai dengan arah gerakan pasukan PKI. Saat di Ponorogo, Achmad menerima informasi bahwa pasukan inti PKI berkekuatan satu brigade sudah bergerak ke Pacitan. Ia lalu memerintahkan pengejaran dengan metode “blitzkrieg”. Musuh dikejar terus tanpa berhenti secara maraton. Selama tiga hari tiga malam Yon A3W terus berjalan diselingi sembilan kali pertempuran sengit. Jarak sepanjang 60 kilometer yang berliku-terjal mereka lalui dengan spartan. Yon A3W beruntung memiliki perwira-perwira tangguh seperti Poniman, Maman Darmawan, Seno, Salwi, Muhammad Marcel, Obrien, Pandris Adiredja, Luki Anwar, Enoch Kengkong, Idrus. Juga komandan regu yang berani mati seperti Aben Benyamin dan Sirod.

Tiba di Pacitan menjelang sore (15/10/’48), regu Sirod berhasil membebaskan ratusan tahanan dari penjara Pacitan, yang hampir saja dieksekusi oleh pasukan PKI. Dengan melompati tembok yang cukup tinggi, Sirod melumpuhkan penjaga penjara. Ratusan tahanan kemudian berhamburan keluar seraya berteriak, “Hidup Siliwangi! Hidup Siliwangi!” Selama 20 hari Yon A3W menjaga Pacitan, lalu menyerahkannya kepada pasukan lain. Mereka harus bergerak kembali ke markas pangkalan di Pabrik Gula di Colomadu, Solo, Mereka menjadi pasukan Siliwangi terakhir yang kembali ke Jawa Barat.

Di antara tawanan yang dibebaskan itu, terdapat sesepuh dan kiai-kiai muda pesantren Tremas, yaitu Kiai Abdur Rozak, Habib Dimyati, Haris Dimyati, dan Hasyim Ihsan. Abdur Rozak adalah tokoh tarekat yang dihormati di kalangan pesantren. Trio Habib-Haris-Hasyim adalah penerus pesantren Tremas hingga mampu bertahan dan terus berkembang. Sebelum peristiwa pembebasan itu, Pesantren Tremas baru saja kehilangan pengasuhnya yang paling dikagumi, yaitu Kiai Hamid Dimyati. Pada era Hamid inilah Tremas mengalami era keemasan, banyak di antara santrinya yang menjadi ulama di tingkat nasional, seperti Ali Maksum (Rais Syuriyah PBNU) dan Mukti Ali (Menteri Agama).

Hamid memimpin pesantren dalam periode 1934-48. Ia generasi keempat di pesantren yang didirikan pada 1830 oleh Kiai Abdul Manan itu. Pada masa kepemimpinannya Tremas dianggap pesantren yang maju, karena ia sudah menerapkan manajerial yang baik. Untuk menunjang keilmuan santri, didirikan perpustakaan yang saat itu terbilang paling lengkap di Jawa Timur. Tak ketinggalan ia berlangganan sejumlah media massa lokal (Penyebar Semangat dari Surabaya) dan internasional (Anshor dan Al-Fata dari Mesir). Pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota Shuu Sangi Kai (Dewan Penasehat Daerah) di Madiun dan anggota Badan Penasehat Gerakan Pencak Silat seluruh Jawa dan Madura. Setelah proklamasi kemerdekaan ia menjadi Kepala Penghulu Pacitan, aktif di Partai Masyumi, dan tercatat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat.

Setelah meletus Madiun Affair, kondisi masyarakat Pacitan sangat terjepit. Para santri hampir semuanya dipulangkan ke tempat asal masing-masing. Sebagai tokoh Pacitan, Hamid berusaha mencari kontak ke ibukota negara di Yogyakarta, untuk meminta bantuan pengamanan. Bersama 14 pengawalnya, ia coba menuju Yogyakarta dengan menyamar. Namun tiba di Pracimantoro, ia bersama pengiringnya ditangkap pasukan PKI lalu dipenjara di Baturetno, dan tak lama berselang dieksekusi di Tirtomoyo. Hanya satu orang pengawalnya yang berhasil lolos dari peristiwa itu. Hamid dan 13 pengawalnya dikuburkan dalam satu lubang. Peristiwa inilah yang sulit dimungkiri oleh para pelaku Madiun Affair, bahwa eksekusi terhadap kiai pesantren memang benar-benar terjadi. Dan kekejaman itu menimpa pengasuh pondok Tremas yang sangat dihormati di kalangan pesantren.

Sejak kejadian itu Pesantren Tremas pun vakum. Baru pada awal 1950-an, tiga serangkai Habib-Haris-Hasyim, membangun lagi puing-puing pesantren hingga berkembang kembali. Saat ini ketiganya telah wafat. Kepemimpinan Tremas dilanjutkan oleh putra-putri mereka. Berkat fondasi kokoh yang dibangun tiga serangkai itulah, ribuan santri dari seluruh Nusantara terus berdatangan untuk belajar agama. Tak berlebihan jika Batalion A3W dianggap telah “menyelamatkan” masa depan Pesantren Tremas. Karena kecepatan gerak merekalah tiga kiai muda itu berhasil diselamatkan. Keluarga besar Pesantren Tremas pasti tidak akan pernah melupakan jasa mereka.

(Iip D. Yahya)***

 

 

Pesantren Margasari Cijawura:

MARKAS PERJUANGAN PASUKAN SABILILLAH

 

Buku “Api Sejarah” karya Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, mengungkapkan banyaknya jasa pesantren bagi perjuangan bangsa, dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Pesantren tidak hanya menjadi tempat menggembleng pejuang, juga banyak yang menjadi markas perjuangan. Salah satu pesantren yang berhadapan langsung dengan musuh pada masa revolusi adalah Pesantren Cijawura, Jalan Margasari, Buah Batu, Bandung. Pada 1946 pesantren ini dihancurkan oleh pasukan Belanda karena dijadikan markas Pasukan Sabilillah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.