Berpikir Bebas, Berpikir Kritis

0
29

Dalam diskusi refleksi memperingati 67 tahun pemikiran Prof. Musa Asy’arie beberapa hari yang lalu, ada sesuatu yang sangat menarik. Sebagian Dosen-Dosen yang hadir dan pernah menjadi mahasiswa Prof. Musa, seperti Dr. Fatimah Husein, Dr. Sekar Ayu Aryani, Prof. Almakin dan Prof. Noorhaidi Hasan, nyaris semuanya sepakat bahwa inti pemikiran yang diajarkan oleh Prof. Musa adalah kebebasan berpikir atau bagaimana belajar cara berpikir secara independen atau dalam bahasa Prof. Noorhaidi, membangun critical thinking.

Menurut Prof. Almakin, dalam konteks UIN SUKA Yogyakarta, tokoh sentral pertama sebagai pioner yang membuka ruang kajian akademik dengan penuh disiplin adalah Prof. Mukti Ali. Kemudian secara global, wacana akademik tersebut dikembangkan oleh dua tokoh sentral selanjutnya yaitu Prof. Amin Abdullah dan Prof. Musa Asy’arie. Jika Prof. Amin mengembangkan literatur akademik yang sangat kaya secara metodologi keilmuan, maka Prof. Musa mengembangkan metode berpikir bebas dan kritis kepada mahasiswa-mahasiswanya.

Baik Prof. Amin maupun Prof. Musa mampu mewarnai para mahasiswa mereka berkembang menjadi Dosen atau pemikir-pemikir kritis-metodologis dengan keunikan mereka masing-masing. Tapi sayangnya, kini kajian akademik secara metodologis keilmuan dengan literatur yang kaya dan metode berpikir bebas atau berpikir kritis sudah mulai redup di kalangan sebagian dosen kita.

Demikian juga catatan kritis dari Prof. Noorhaidi. Menurut beliau, metode berpikir secara bebas, berpikir secara independen, atau dalam bahasa beliau, critical thinking yang diajarkan oleh Prof. Musa sesungguhnya amat sangat penting dalam dunia akademik untuk mengembangkan riset sehingga bisa menghasilkan ilmu pengetahuan yang seluas-luasnya. Dengan critical thinking tersebut, dapat melatih imajinasi kita secara kreatif dalam menghubungkan berbagai variabel yang tampaknya tidak berhubungan sama sekali menjadi berhubungan satu sama lain secara sintetik-heuristik dan akhirnya menghasilkan temuan-temuan inovatif yang baru, yang autentik.

Tapi sayangnya, kata Prof. Noorhaidi, justru critical thinking inilah yang kini malah hilang di sebagian kampus-kampus kita. Kalaupun masih diajarkan, tidak sampai mengakar dan tidak menjadi bagian dari pisau analisis dalam membedah suatu persoalan. Yang tumbuh di sebagian besar kampus-kampus kita sekarang cenderung bercorak vokasional yakni berbagai program studi kejuruan untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan praktis setelah lulus kuliah.

Ini juga alasannya mengapa studi filsafat yang mengajarkan critical thinking tidak begitu lagi diminati oleh banyak orang. Sebab mayoritas orang, bahkan dalam lingkungan akademik kampus sekalipun, lebih suka dengan hal-hal yang bersifat praktis-pragmagtis ketimbang bergumul dengan pemikiran kritis-metodologis dalam ranah filsafat. Akibatnya, wacana akademik dan metodologi atau teori-teori keilmuan dalam kampus kita sulit berkembang.

Kini kita sangat sulit mencari dosen-dosen yang sangat tekun mendalami wacana-wacana filsafat yang mengajarkan berpikir kritis. Kini kita amat sulit menemukan dosen-dosen yang amat tekun melakukan penelitian dengan metode kritis-filosofis secara total. Kini kita juga agak sulit menemukan akademisi yang sanggup mengembangkan metode berpikir bebas secara independen atau berpikir kritis. Sebab mereka tidak lagi mengenal tradisi berpikir kefilsafatan, berpikir ala social sciences, atau critical thinking.

Di sinilah, menurut Prof. Noorhaidi, metode berpikir bebas dan berpikir kritis yang selalu diajarkan oleh Prof. Musa Asy’arie menemukan relevansinya; menemukan gema aktualitasnya. Sampai kapanpun kaum akademisi dan dunia kampus tidak boleh meninggalkan metode berpikir bebas dan berpikir kritis ini.

Pada titik inilah, tiba-tiba saya teringat peringatan keras dari Fazlur Rahman: siapapun kaum akademisi yang meninggalkan analisis filsafat, niscaya mereka telah melakukan intellectual suicide, yakni bunuh diri intelektual. Mengapa demikian? Karena hanya dengan filsafat-lah, melalui metode berpikir bebas dan kritisnya, seluruh produk ilmu pengetahuan akan selalu dipertanyakan, dikritisi, dan digugat kembali relevansinya, sehingga ilmu pengetahuan akan senantiasa terbuka dan berkembang untuk menemukan aktualitasnya secara kontekstual .

Pada konteks ini pula, pemikiran-pemikiran kritis yang disuarakan oleh para cendekiawan kita perlu terus menerus kita rawat dan kita kembangkan kembali. Dan hari ini, critical thinking yang selalu disuarakan tanpa lelah oleh Prof. Musa Asy’arie harus tetap kita rawat selalu agar dunia kampus, terutama PTKIN dapat mengembangkan wacana keilmuan seluas-seluasnya.
Semoga…

Berita sebelumyaSecuplik Pengalaman Menjadi Muslim di Inggris
Berita berikutnyaFilsafat Islam, Sunnah Nabi dalam Berpikir
Musa Asy'arie
Prof.Dr. H. Musa Asy'arie (lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 31 Desember 1951) adalah salah satu filsuf Muslim Indonesia yang memiliki peran sentral dalam menanamkan secara kuat landasan berpikir-bebas atau mazhab kebebasan berpikir. Musa mengajarkan tentang konsep-konsep fundamental mengenai aspek teologi, kosmologi, dan antropologi serta kebudayaan, dalam cara pandang Filsafat Islam. Ia bergerak dari basis perenungan kefilsafatan sampai dengan praksis sosial-ekonomi serta politik. Perhatiannya terhadap dunia ekonomi riil merupakan cerminan dari dirinya sendiri yang juga menjadi pelaku usaha atau pengusaha sukses. Dalam pemikiran kefilsafatan, Musa melandaskan teori-teorinya di atas terang kitab suci al-Qur’an melalui penafsiran rasional. Musa membangun pemikiran filsafatnya secara utuh dan mensistematisasi ke dalam unsur-unsur atau cabang-cabang kajian Filsafat Islam. Ia memiliki minat dan memberikan perhatian sangat luas terhadap berbagai isu dan permasalahan konkret yang terjadi dalam ranah sosial, politik, budaya, pendidikan, ekonomi, dan lain-lain di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.