Bumi Datar dan Fikih Digital

0
23

Jika dunia kotak telah memenjara hidup sesorang, maka kotak ideologi, kotak kesukuan, kotak politik, kotak sosial, kotak budaya, dan kotak agama berkembang menjadi kotak kaku yang tertutup. Gesekan orang yang telah berkotak menjadi gesekan yang mudah menimbulkan kekacauan dan kekerasan. Tiap orang boleh memilih kotaknya, tetapi jangan terpenjara dalam kotak fanatisme yang sempit, karena akan membuat seseorang kehilangan cakrawala berpikirnya yang luas.


Orasi dan Diskusi Refleksi 67 Tahun Pemikiran Musa Asy’arie. Yogyakarta, 19 Januari 2019


Acara Refleksi 67 tahun dan Diskusi Pemikiran Musa Asy’arie adalah kegiatan yang diadakan pada tanggal 19 Januari 2019 di Yayasan Padepokan Musa Asy’arie (PADMA). Acara ini bermula dari ide Dr. Zaprulkhan untuk menulis antalogi pemikiran cendekiawan Muslim di Indonesia, salah satunya adalah Prof. Musa Asy’arie. Pada kegiatan ini Prof. Musa Asy’arie juga memberikan orasi ilmiah terkait kegelisahan tentang dunia akademisi dan dunia digital hari ini. Kegiatan ini turut dihadiri oleh kolega dan mahasiswa Prof. Musa Asy’arie yang ada di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Institut Agama Islam Negeri Surakarta, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Beberapa nama diantaranya adalah Dr. Fatimah Husain, Dr. Sekar Ayu Aryani, Prof. Dr. Noorhaidi Hasan, dan Prof. Al-Makin turut ambil bagian dalam diskusi 67 tahun Pemikiran Musa Asy’arie.

Berita sebelumyaFilsafat Islam, Sunnah Nabi dalam Berpikir
Berita berikutnyaSempat Anti-Islam, Eks Anggota Parlemen Belanda Jadi Mualaf
Musa Asy'arie
Prof.Dr. H. Musa Asy'arie (lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 31 Desember 1951) adalah salah satu filsuf Muslim Indonesia yang memiliki peran sentral dalam menanamkan secara kuat landasan berpikir-bebas atau mazhab kebebasan berpikir. Musa mengajarkan tentang konsep-konsep fundamental mengenai aspek teologi, kosmologi, dan antropologi serta kebudayaan, dalam cara pandang Filsafat Islam. Ia bergerak dari basis perenungan kefilsafatan sampai dengan praksis sosial-ekonomi serta politik. Perhatiannya terhadap dunia ekonomi riil merupakan cerminan dari dirinya sendiri yang juga menjadi pelaku usaha atau pengusaha sukses. Dalam pemikiran kefilsafatan, Musa melandaskan teori-teorinya di atas terang kitab suci al-Qur’an melalui penafsiran rasional. Musa membangun pemikiran filsafatnya secara utuh dan mensistematisasi ke dalam unsur-unsur atau cabang-cabang kajian Filsafat Islam. Ia memiliki minat dan memberikan perhatian sangat luas terhadap berbagai isu dan permasalahan konkret yang terjadi dalam ranah sosial, politik, budaya, pendidikan, ekonomi, dan lain-lain di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.