Gempa di Palu

0
22

Gempa di Palu sungguh dahsyat, tanah bisa bergerak berpindah lokasi dan terbalik seperti diaduk yang di bawah berpindah ke atas dan sebaliknya. Seperti tukang bangunan mengaduk semen, pasir, gamping dengan dicampur air, sehingga menjatu untuk adukan bangunan rumah atau gedung#

Belum lagi semua bangunan rumah ambruk dan rata dengan tanah, sambungan PLN putus menggulita, air dan makanan tak tersedia, maka setiap orang diliputi oleh rasa ketakutan, kekhawatiran dan kegelisahan yang merasuki jiwa seorang yang terkena mushibah besar#

Untuk bertahan hidup, dan lambatnya bantuan, karena akses ke lokasi terhalang jalanan rusak, jembatan putus, lalu terjadilah penjarahan massal di mana-mana. Ini tindakan yang tidak benar dan kriminal, tetapi dalam keadaan yang darurat bisa dimengerti#

Bandingkan dengan para koruptor, berpendidikan tinggi, para pejabat dan politisi kelas atas, yang hidupnya nyaman, dan tidak dalam keadaan darurat, tetapi melakukan penjarahan uang rakyat dengan korupsi besar-besaran untuk tujuh turunan. Ini adalah tindakan yang tidak benar dan kejahatan luar biasa dan tentu sangat tidak bisa dimengerti#

Semua itu terjadi karena sesungguhnya sedang terjadi peluruhan sistem nilai dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Akibatnya masyarakat menjadi hedonis, materialistis dan individualistik yang kemudian membentuk perilaku banalisme yang maluas#

Semua mushibah ini harus dimaknai sebagai tanda pengingat untuk kembali pada moralitas bangsa dan negara yang mulai luruh, disertai keharusan untuk mawas diri, berbenah diri, dan mengubah diri bangsa dan negara menjadi lebih adil, lebih taat hukum, lebih peduli, lebih merata, lebih bersatu dan bekerja sama untuk kebaikan, harmoni dan kedamaian. Jika tidak, akan meluruhkan NKRI itu sendiri#

Berita sebelumyaBencana Alam
Berita berikutnyaBolehkah Menghubungkan Gempa Bumi dengan Teguran Tuhan?
Musa Asy'arie
Prof.Dr. H. Musa Asy'arie (lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 31 Desember 1951) adalah salah satu filsuf Muslim Indonesia yang memiliki peran sentral dalam menanamkan secara kuat landasan berpikir-bebas atau mazhab kebebasan berpikir. Musa mengajarkan tentang konsep-konsep fundamental mengenai aspek teologi, kosmologi, dan antropologi serta kebudayaan, dalam cara pandang Filsafat Islam. Ia bergerak dari basis perenungan kefilsafatan sampai dengan praksis sosial-ekonomi serta politik. Perhatiannya terhadap dunia ekonomi riil merupakan cerminan dari dirinya sendiri yang juga menjadi pelaku usaha atau pengusaha sukses. Dalam pemikiran kefilsafatan, Musa melandaskan teori-teorinya di atas terang kitab suci al-Qur’an melalui penafsiran rasional. Musa membangun pemikiran filsafatnya secara utuh dan mensistematisasi ke dalam unsur-unsur atau cabang-cabang kajian Filsafat Islam. Ia memiliki minat dan memberikan perhatian sangat luas terhadap berbagai isu dan permasalahan konkret yang terjadi dalam ranah sosial, politik, budaya, pendidikan, ekonomi, dan lain-lain di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.