Haruskah Berpuasa Melebihi Waktu Normal ?

0
219

SOKOPAPAT.COM- Bagi kaum muslimin yang tinggal di negara belahan utara (Sub-Tropik), seperti kawasan Eropa dan Amerika Utara, waktu puasa tahun ini terasa sangat ekstrim karena bertepatan dengan musim panas. Sebagimana lazimnya, pada musim panas durasi puasa di negara Eropa Utara bisa berkisar antara 18 hingga 20 jam setiap harinya. Ini berbanding terbalik jika terjadi pada musim dingin, di mana waktu puasa bisa sangat pendek, yaitu sekitar 7 jam, bahkan bisa hanya 2 jam.

Ketentuan mengenai lama waktu puasa ini merujuk kepada  ijtihad yang telah disepakati oleh para ulama berdasarkan nash Al-Qur’an dan sunnah serta kaidah-kaidah fiqhiyyah yang dijadikan pedoman berijtihad dalam menentukan waktu puasa, yakni sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, atau berkisar antara 13-15 jam. Atas dasar itu, haruskah mereka yang tinggal di daerah sub-tropis menjalankan puasa melebihi waktu normal, atau mengikuti waktu terdekat di daerah tropik ?

Sebagai agama rahmat, segala ketentuan ajaran di dalamnya tentu tidak dimaksudkan untuk memberatkan para pemeluknya. Karena itu, sebagai pilihan sebagian ulama memberi solusi bagi umat Islam yang tinggal di daerah ekstrim, dengan menjalankan puasa mengikuti waktu Hijaz ( Makah-Madinah), yang merupakan daerah tropis terdekat sekaligus tempat asal-muasal risalah Islam diturunkan. Dengan mengambil kebijakan seperti itu, mereka bisa puasa dengan durasi waktu yang normal antara 13-15 jam. Ketentuan ini juga berlaku pada musim dingin. Meski waktu siangnya bisa sangat pendek, antara 2-7 jam, seyogyanya mereka puasa menggunakan pedoman waktu daerah tropik terdekat.

Dalil-dalil yang dipakai para ulama berkenaan dengan  waktu puasa bagi mereka yang berpuasa di daerah sub-tropik, antara lain :

وَ مَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ في الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan Allah tidak menjadikan untukmu dalam beragama utk kesempitan”

(QS : A-Hiijr : 7)

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا الاَّ وُسْعَهَا

 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

(QS: Al-Baqarah :286 )

اَلدِّيْنُ يُسْرٌ وَلَنْ يَغَالِبَ الدِّيْنِ أحَدٌ الاَّ غَلَبَهُ

“Agama Islam itu mudah, tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkan agama, bahkan agamalah yang akan mengalahkannya.” ( HR. Baihaqi )

يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا

“Hendaklah engkau permudah, jangan engkau buat susah dan gembirakan mereka, jangan buat mereka lari menjauh.” (HR. Bukhari-Muslim)

Sementara kaidah-kaidah fiqih yang dijadikan dasar antara lain :

اَلْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ

“Kesulitan itu akan membawa kemudahan”

اَلضَّرُوْرَةُ تُبٍيْحُ الْمَحْظُوْرَاتِ

“Keadaan darurat (terpaksa) itu dapat membolehkan hal-hal yang terlarang.”

مَا أُبِيْجُ لِلضَّرُوْرَةِ يُقَدَّرُ بِقَدَرِهَا

“Hal-hal yang diperbolehkan karena keadaan terpaksa itu diperkirakan menurut kadarnya/seperlunya.”

Dengan metode Taqdir Al-Waqt beserta dalil-dalil yang dijadikan dasar pengambilan hukum, menunjukkan ajaran Islam sebagai agama yang fleksibel, praktis dan tidak mempersulit umatnya sebatas masih dalam kewajaran, serta mempertimbangkan mashalihul aam ( kemaslahatan umum) dan rasa keadilan sesuai dengan kondisi dan perkembangan zaman.

Keputusan akhirnya ada di tangan Anda yang berpuasa di daerah abnormal, dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah yang dijadikan dasar penetapan hukum, sesuai ijtihad para ulama yang memenuhi syarat keilmuan sesuai ketentuan yang telah disepakati jumhur ulama (mayoritas ulama). /(am)  

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.