Blirik

0
265

Oleh: Yusuf Arifai

Blirik berjalan di tengah malam
Malang melintang di ujung sendang
Terlelap di bantalan bebatuan
Ia menengadah tetesan embun
Kilauan titik-titik syarat cahaya

Bola mata terpancar arti
Lalu terteduh antara dua sisi
Ujung muka dan bebatuan
Berpadu hanyut menyelami relung
Sukma tanpa raga tak berbentuk
Entah dari mana sebuah cahaya
Blirik jari lentik teruntai
Mencoba tuturkan kata-kata
Reruntuhan peradaban buih-buih cinta

Bila fajar telah tiba
Blirik lari menyongsong
Kemudian menengadah lagi
Lentik-lentik jemari rapat
Menembus doa dan harapan
Menjelma kekasih cinta sejati.

-Mekkah, 1 Rajab 1438 H

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.