Kumpulan Bongso Ngawam

1
189

Saat ini. Kita sadari maupun tidak. Sebagian besar kumpul-kumpul alumni memang agak redup gaungnya. Mungkin karena sudah masanya WA. Kumpul fisik. Dianggap kuno, bukan jamannya.

Tapi yen tak angen-angen. Coro jowone tak analisa. Mungkin juga karena sebagian besar kumpul alumni itu berbentuk acara. Semakin hari semakin besar. Dan tambah berat.

Bisa halal bi halal. Pengajian. Haul. Dll.

Dengan adanya embel-embel acara ini. Tentu berbanding lurus dengan beban. Yang harus dipikul bersama.

Maksud saya, jika kumpul dengam bingkai acara. Maka kita perlu panitia. Mikir acaranya. Mbikin panggungnya. Ngaturi pak Kyai-nya. Minimal, ditodong urunan, karena pasti banyak biayanya.

Sudah begitu. Saat kita datang. Isinya hanya disuruh duduk manis. Sepanjang acara. Mendengarkan ceramah. Ikut ketawa sesekali. Kalau kyainya lucu.

Sama sekali kita tidak diberi kesempatan untuk bicara. Menceritakan siapa kita. Keberhasilan kita. Curhat masalah yg dihadapi. Dan lain sebagainya.

Paling banter yang bisa kita lakukan. Bisik-bisik sama teman duduk sebelah. Disela-sela pengajian. Curi-curi kesempatan.

Padahal, berbicara, didengarkan, dimengerti, diakui, dan sebangsanya. Adalah sebuah kebutuhan primer bagi manusia normal. Secara psikologis.

Lihat facebook. Sukses luar biasa. Karena dia bisa memberi tempat dan kesempatan. Kepada setiap orang yang bahkan bukan siapa-siapa. Untuk bisa eksis. Menunjukkan jati dirinya. Keberhasilannya. Kemesraannya. Sampai kemerdekaan berbicara. Seakan sederajat untuk seluruh umat manusia.

Nha. Untuk itu. Kenapa kita tidak kepikiran. Untuk mengadakan kumpulan alumni. Yg tidak usah pakai acara. Tidak perlu ada panitianya. Tidak harus kerja bakti. Dan tidak jengah ditodong iuran.

Ngumpul saja. Misal kita sepakati hari apa dan tanggal berapa. Di rumah siapa. Hanya ngumpul saja. Yg sempat sambil bawa makanan sendiri. Sayur. Lauk. Snack. Udud. Tuan rumah tinggal menyediakan nasi. Sama teh kopi. Dan tikar.

Tak perlu banyak. Cukup se-desa. Se-kecamatan. Se-hoby. Se-pekerjaan. Dan se-se lain yg dapat digunakan sebagai simpul silaturahmi.

Lalu acaranya. Ya ngumpul saja. Ngipah. Ngobrol. Kangen-kangenan. Biar pantes ya didahului tahlil. Mendoakan arwah para leluhur. Para masyayih. Juga mendoakan kita sendiri.

Kemudian giliran. Siapa yg mau bicara. Tidak harus bicara agama. Keseringan ngaji, jenuh juga.  Sesekali kita bicara tentang kehidupan dunia. Usahanya. Cerita perjuangannya. Pengalamannya. Keluh kesahnya. Dan lain sebagainya. Boleh curhat juga.

Dilanjutkan musyawarah. Mengumpulkan saran dan masukan. Agar kita menjadi lebih baik. Lebih berkah. Syukur bisa saling membantu. Saling membimbing. Minimal saling mendoakan. Sopo ngerti nemu dalan.

Jika kumpulan-kumpulan kelas awam yang manusiawi ini bisa diciptakan. Per-daerah. Per-angkatan. Per-kelompok. Per-berapa bulan. Insya Alloh guyup alumni. Akan kembali bersinar. Bergema keseluruh negeri. Mengisi relung-relung hati. Nan gersang. Walah… malah puitis.

Juga tambah berkah. Karena kita sering silaturahmi.  Ketemu beneran. Rangkulan. Saling menatap. Saling berjabat. Bukan hanya WA-nan.

Dengan ketemu langsung. Selaksa nonton film 3 dimensi. Kita bisa tahu situasi dan kondisi kawan alumni yg sebenernya. Nyata. Turut merasakan nafas perjuangannya. Ikut tenggelam dalam kebahagiaannya. Menghibur kala kesedihan datang mendera.

Secara tidak langsung. Gema dakwah pun akan bersemangat kembali. Memancar indah. Seperti dulu. Suatu masa, yg sering kita banggakan.

Lalu halal bi halalnya? Pengajiannya?  Haulnya? Ya tetep ada. Bukanya mbah Kyai sudah berpesan, agar kita selalu menjaga hal-hal yang sudah baik. Dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik?

Den Haag, 23 Ramadhan 1439 H

1 KOMENTAR

  1. Kalo orang dulu bilang, “Mangan ora mangan kumpul”, sekarang malah dirubah, “Kumpul ora kumpul mangan.”
    Jadinya lumayan susah meski sekadar mengajak kumpul.
    Solusinya? Bangun komunikasi sesuai kondisi saat ini dan tinggalkan hal2 tak penting yg menghambat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.