Semaput Sampai Maghrib

0
207
foto dokumentasi Taste of Amsterdam/facebook

Catatan kecil, potret beribadah puasa di Eropa.

Semasa kanak-kanak, saya merasa paling hebat. Paling kuat puasa. Jika ada sebaya yang baru puasa sampai Dhuhur. Saya bilang, kuat sampai Ashar. Kalau ketemu yang sampai Ashar, saya kuat sampai Maghrib.

Bahkan, saya pernah bilang kuat puasa sampai Isya’. Pokoknya tidak mau kalah. Namanya juga masih anak kecil. Selalu ingin jadi yang paling keren.

30 tahun kemudian, saya kena karma. Kualat atas kesombongan saya, waktu itu. Tinggal dan berpuasa di suatu tempat. Yang panjang siangnya. Sampai 19 jam!

Musim panas tahun ini. Belanda memulai puasa jam 3.34 pagi. Tambah hari, tambah mundur waktu imsyaknya. Hingga pada akhir Ramadhan. Waktu imsyak sudah tiba saat jam baru menunjukkan pukul 2.55. Dinihari.

Sementara itu, waktu berbuka pun tak mau ketinggalan. Ikut menguji iman kita. Semakin hari, semakin lari menjauh. Bila awal puasa, Maghrib pukul 21.34. Maka pada akhir Ramadhan. Waktu Maghrib yang dinantikan. Baru tiba pukul 22.07.

Jangan kaget kapan mulai tarawihnya. Beberapa menit. Lewat tengah malam.

Lengkap sudah. Panjang. Panas. Lemas. Dan kurang tidur. Apakah berhenti sampai disitu. Tidak!

Ujian berpuasa di Eropa. Tidak hanya pada hitungan waktu saja. Sebagai minoritas. Tidak ada himbauan dan aturan daerah yang membantu. Warung, restoran, fast food, cafe, pedagang es krim, tukang buah, alkohol bahkan ganja sekalipun. Tidak ada yang tutup. Semua bebas menggelar dagangannya. Siang hari. Terbuka. Seperti biasa. Sepanjang tahun.

Tetangga, kenalan, teman kerja bahkan saudara. Semua makan minum. Di depan kita. Tanpa rasa ewuh-pakewuh. Lingkungan tidak kenal jargon. Hormati orang puasa. Apalagi takut digeruduk FPI.

Giliran waktu berbuka tiba. Yang banyak ditemui hanya roti, keju, pizza, spaghetti, kentang goreng, kue-kue aneh, dan sebangsanya. Rasanya kurang nikmat. Untuk lidah kampung. Punya saya.

Kalau kangen kolak pisang, ikan asin, sayur bayem, tempe goreng, pecel, sambal urap. Ya harus bikin sendiri. Atau ikut antri buka puasa bersama di masjid Indonesia, juga KBRI. Diakhir minggu. Jika anda beruntung.

Selain godaan makan dan minum. Yang tak kalah berat adalah menjaga mata.

Saat cuaca cerah dan suhu udara mencapai 20 derajat. Orang bule suka lupa pake baju. Dan celana. Saking girangnya. Ketemu cuaca panas. Yang hanya terjadi beberapa minggu dalam 1 tahun.

Kalaupun pakai baju ya model you can see. Tipis menerawang. Sampai tahi lalatnya jelas kelihatan. Dipadu dengan celana ketat yang pendeeeeeeek sekali. Kadang sampai tidak pantas. Disebut celana pendek. Saking ketatnya. Nempel. Lebih pendek dari ukuran tubuhnya sendiri.

Mereka tidak merasa risi. Tidak malu sama sekali. Karena memang begitu adatnya. Apalagi kalau kita terpaksa nyasar ke pantai. Sering dengan sengaja sih, hehehe.

Cuaca cerah cenderung panas adalah masa yang selalu sangat dinanti. Untuk berjemur. Kala itu tiba. Batas aurat sudah tidak ada artinya. Perempuan bule berpakaian selaksa hamba sahaya di masa lalu. Hanya pakai celana dalam. Selebihnya wallohu a’lam.

Berada di tengah mereka saat itu. Saya berasa di taman surga. Dikelilingi 70 bidadari. Kulit putih. Hidung mancung. Tinggi semampai. Mirip gambaran kecantikan bidadari. Yang pernah diceritakan simbah. Di masa kecil.

Hal lain yang sangat kita rindukan adalah suasana. Tidak ada suasana Ramadhan. Seperti di kampung. Meski kantor tempat kerja saya telah mengurangi 1 jam kerjanya setiap hari. Namun tetap saja beragam kegiatan tidak bisa menyesuaikan dengan kesucian bulan puasa. Banyak kegiatan tetap terlaksana, baik yang di dalam maupun jauh di luar kota.

Bahkan Ramadhan tahun ini. Saya terpaksa harus bekerja menjaga stand pameran pada siang hari. Beberapa kali. Dalam 2 kegiatan yang berbeda. Waktu dan tempatnya.

Yang pertama masih agak ringan. Jaga pasar malam Tong Tong. Modal brosur dan info saja. Stand di depannya pun lebih banyak jualan travel dan barang kerajinan.

Sementara yang kedua. Jaga Taste of Amsterdam. Dari namanya kita tahu. Ini festival makanan!

Di sini, sepanjang hari. Kita harus berjuang membendung berliter-liter air liur. Agar tidak tumpah. Saat mempromosikan kelezatan beragam makanan. Dalam suasana warung makan khas Indonesia. Pada bulan puasa. Dari jam 11 pagi. Sampai jam 11 malam. Selama 4 hari.

Otak awam ini galak memberontak. Waktu saya diminta menjelaskan. Berjenis kuliner Indonesia. Kepada orang yang sedang sibuk menikmati makanannya.

Dia, si mbak-mbak bule itu. Mengibaskan rambut pirangnya. Menyendok dan menggigit sepotong kecil ikan tuna setengah matang. Berlumur saus bawang. Bertabur telor ikan. Hanya belasan senti. Tepat di depan muka saya.

Sejurus kemudian dia mengunyah. Sambil memejamkan mata birunya. Dan berguman heel erg lekker. Sangat enak sekali katanya. Cleguk.

Ya Alloh Gustiiii. Saya mau semaput saja. Sampai maghrib.

Den Haag, 25 Ramadhan 1439H

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.