KISAH IBNU MULJAM : ANTARA PEREMPUAN DAN KEJAHATAN ATAS NAMA AGAMA

0
399

SOKOPAPAT.COM– Pagi itu, tepat tanggal 19 Ramadan, Imam Ali bergegas menuju masjid. Suara tarhim dari seorang jamaah menggoda sang Imam datang lebih awal sebelum subuh tiba.

Selesai Imam Ali mengumandangkan azan dan ikamah, Orang itu berdiri tepat di belakang mihrab, tempat Imam Ali mengimami salat.

Entah mengapa, seperti ada sesuatu yang disembunyikan di balik jubah lebar yang dikenakan sang jamaah.

Saat salat telah dimulai, ia tak menampakkan gerakan mengikuti imam. Tepat saat Imam Ali sujud, mendadak orang itu keluar dari shaf menuju mihrab, tepat di depan sang imam. Dan dalam hitungan detik ia mengeluarkan pedang yang telah disiapkan di balik jubahnya sambil mengayunkannya tepat di tempurung kepala bagian depan Imam Ali, seraya bertakbir dan mengeluarkan kata-kata sebagai pembenaran atas tindakan biadabnya,

““Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!”

Demikian hujah sang pecundang yang tak lain adalah Abdurrahman bin Muljam, tokoh Khawarij yang telah bernazar membunuh Imam Ali atas dasar sempitnya pemahaman agama yang diyakininya.

————-

Bagi yang tak sependapat dengan sepenggal kisah ini berkilah, Ibnu Muljam melakukan itu sebagai pembunuh bayaran atas suruhan orang Yahudi. Mereka menutup mata bahwa Ibnu Muljam merupakan Muqri’ kepercayaan Khalifah Umar. Keahliannya di bidang Qur’an tak diragukan hingga dipercaya khalifah untuk menjadi guru Qur’an bagi penduduk Mesir. Ia juga ahli ibadah, kuat salat malamnya dan tak pernah lepas berpuasa.

Mengenai hubungannya dengan rumor sebagai suruhan Yahudi, hanyalah sebagai penguat atas dalih yang telah diyakininya, bahwa siapapun yang tak berhukum dengan hukum Allah versi kelompok mereka, dihukumi telah kafir dan halal darahnya.

Siapakah sebenarnya Yahudi yang dimaksud? Tragedi berdarah ini menjadi menarik ketika ada faktor perempuan yang menjadi bumbu penyedap. Ia seorang perempuan Yahudi kufah yang telah masuk Islam dan berada di barisan para pemberontak (Khawarij). Orangtua dan kakaknya tewas dalam pertempuran di Nahrawain, saat bentrok dengan pasukan pemerintah pimpinan Imam Ali. Dendam kesumat atas tewasnya orang-orang yang dikasihi itu akhirnya menemukan jalannya. Seperti pucuk dicinta ulam tiba, Abdurrahman bin Muljam, seorang tokoh Khawarij terkemuka jatuh cinta pada pendangan pertama dengan si perempuan Yahudi itu. Saat lamaran dijatuhkan, si perempuan meminta banyak mahar, salahsatunya pembalasan atas kematian ayah dan saudaranya.

Ibnu Muljam seperti tak menghadapi kesulitan memenuhi keinginan perempuan pujaan hatinya. Permintaannya hanya memperteguh niat sebelumnya yang ingin menghabisi sang khalifah. Bagi Ibnu Muljam, Imam Ali telah kafir karena berseberangan dengan apa yang diyakininya. Hal itu sudah cukup baginya untuk mencap sang khalifah sebagai kafir yang halal darahnya.

————–

Setelah tebasan pedang itu diayunkan, hingga darah mengucur deras keluar dari kepala, tak ada erangan dari sang Khalifah. Beliau justru berucap syukur,

“aku telah menang.”

Imam Ali menyadari betul bahwa pagi itu dirinya akan menjemput takdir sebagaimana telah disabdakan oleh baginda Rasulullah saw, sepupu sekaligus mertuanya ;

“Manusia paling celaka di masa sebelum aku, adalah yang membunuh unta Nabi Shalih.”

Saat mendengar itu, Ali terkesima dan bertanya,

“Di masa setelah engkau, siapa ya Rasulullah?”

“Di masa setelah aku, adalah yang menghantam kepalamu ini, ya Ali, hingga janggutmu meneteskan darah,” kata Rasulullah sambil meletakkan telunjuknya di dahi dan pelipis Ali. (H. R. Ahmad dan Al-Hakim At-Tirmidzi).

———-

Pagi itu, di mana Rasulullah pernah meletakkan telunjuknya, persis menjadi tempat luka akibat tebasan pedang beracun oleh Ibnu Muljam. Imam Ali wafat pada hari ketiga (21 Ramadan) dengan meningalkan pesan agar sang pelaku tetap diberlakukan adil bila kelak menjalani qishash atas perbuatannya.

Begitulah seorang kekasih Allah, saat mampu membaca takdir, ia tidak akan berlindung atau menghindar dari ketetapan itu. Ia rela menjemput dengan penuh sukacita, dan terus berupaya mempersiapkan dengan amal salih, dan menjaga keluarganya dari melakukan kezaliman, hingga saat takdir ajal menjemputnya.

————-

Pada akhirnya, fanatisme beragama yang tak diimbangi dengan pemahaman agama yang memadai, menafikan akal sehat dan menolak kebenaran orang lain, dapat mengancam kehidupan beragama itu sendiri. Tafsar mereka, para pecundang yang mengaku sebagai penjaga kitabullah dan sunnah nabi hanya berdasarkan nafsu, tanpa bekal kemampuan yang mumpuni. Orang-orang seperti inilah yang melahirkan generasi-generasi baru Ibnu Muljam, yang menjadikan agama sebagai tameng pembenaran atas apa yang diucapkan. Dan orang-orang seperti ini nyatanya lebih terlihat sebagai mesin pembunuh dan pencabut nyawa yang mengerikan bagi keberlangsungan kehidupan.

Hari ini, kita harus mewaspadai para pewaris ideologi yang dianut Ibnu Muljam yang gentayangan di sekitar kita dan terpelihara dengan baik, generasi takfiri yang hobi membunuh sesama – meski seiman – dengan dalih ” atas perintah firman Tuhan..”

Bagaimana dengan perempuan Yahudi itu? Ah, perempuan selalu menjadi korban orang-orang yang bermasalah dengan moralitasnya. /(am)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.