MENUJU KEPUNAHAN AKAL (SEHAT)

0
200
[ilustrasi]

SOKOPAPAT.COM- “ Al-Insanu Hayawanun Nathiq.” Manusia adalah hewan yang berakal, demikian ungkapan yang pernah saya dengar dalam pelajaran balaghah waktu di pesantren. Pada kenyataannya, semua manusia menjadikan akal untuk berpikir. Karena itu berpikir menjadi hal urgen bagi manusia agar bisa dibedakan dengan makhluk lain, semisal hewan.

Dengan berpikir  manusia mengetahui hakikat penciptaannya. Dengan akal pikiran pula manusia melahirkan ide, gagasan dan kreatifitas lain demi merawat dan melestarikan kehidupan. Berpikir juga menjadi indikator hidup matinya seseorang, karena mereka yang tidak bisa lagi berpikir sama halnya raga tanpa jiwa dan tak ubahnya seperti telah memasuki alam kematian sesungguhnya.

Bagaimana dengan seorang penulis melewatkan hari-hari berlalu tanpa goresan sebaris tulisan? Tentu ia akan merasakan kesakitan yang luar biasa. Ketika membaca bertumpuk buku tak melahirkan ide dan gagasan untuk dituangkan dalam tulisan juga menjadi siksaan yang tak terperi. Apa yang sebenarnya yang terjadi? Adakah sesuatu yang membuat akal dan nalar berhenti dari melahirkan ide dan gagasan?

Sejatinya melahirkan gagasan dan memelihara ide bukan hal yang sulit bagi kita yang saat ini sangat mungkin berinteraksi dengan siapapun di berbagai belahan dunia, terlebih bagi para penikmat dan penggila buku, ide dan gagasan akan sangat akrab dengan kehidupannya. Persoalan muncul, ketika derasnya berita dan informasi yang tiap detik menjejali kepala kehilangan kontrol, seseorang tak bisa lagi sembarangan menuangkan ide dan gagasan tanpa memilah dengan jeli apa yang berseliweran di “dunia datar” bernama gajet.

Menjaga dan memelihara nalar sehat, tidaklah mudah pada zaman di mana segala sesuatu semakin sulit dibedakan. Benar salah, pandai pandir, perawan janda, saleh amoral, semua sebagaimana nampak pada dua sisi mata uang. Dua sisi yang berlawanan namun menyatu, seakan menjadi identitas riil yang menempel pada siapapun. Pagi hari bisa jadi ia seorang ustadz dengan baju kebesarannya, berceramah tentang kenikmatan surga.  Malam harinya mendadak si ustadz muncul di tempat esek-esek mencoba sensasi surga dunia.

Ada banyak hal yang tak mudah kita cerna dan identifikasi dari berbagai kejadian yang datang bertubi. Berita hoax begitu deras bak air bah, berhadap-hadapan saling klaim kebenaran dengan serbuan cemooh dan caci-maki. Hampir tak ada kejadian tanpa kontroversi yang sengaja mereka ciptakan demi pundi-pundi uang. Tak ada juga idealisme dari para jurnalis dadakan yang mengabaikan mutu berita demi  mengharap iklan dan ribuan klik menghampiri portalnya.

Godaan uang tidak hanya memabukkan, tapi juga menggerogoti akal sehat kita. Bagaimana tidak? Siapapun bisa menjadi penguasa, mendirikan media bak negara dalam negara yang ia bangun dengan kuasa tangannya. Menciptakan belasan akun anonim yang berganti setiap menit. Tak ada lagi kontrol atas wilayah kekuasaan yang mereka ciptakan bermodalkan ajakan like, share, dan jumlah follower.

Akal sehat  sedang dalam persimpangan jalan. Pertarungan idealisme dalam menulis, menuangkan ide dan kreatifitas beradu dengan monster bernama Google dengan aplikasi “Adsense”nya, yang menggoda para blogger, jurnalis dan penulis lepas dengan pundi-pundi dolarnya. Mereka dipaksa bekerja keras nir idealisme yang telah menggerus dan mengebiri akal sehat demi mengharap perklik dari konten berita yang mereka tulis.

Bisakah kita merawat dan memelihara idealisme dan kreatifitas dari kepunahan? Sebuah pertanyaan yang sulit dijawab ketika segala hal bisa dibeli, meski harus menggadaikan kebebasan berpikir. Dan saat manusia tak lagi memiliki kuasa atas kebebasan berpikirnya, masihkah layak disebut manusia?

Wallahu a’lam Bisshawab.

*Artikel ini pernah dimuat penulis di Kompasiana, 5 Maret 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.