PARA PENYEMBAH WAKTU

0
117

SOKOPAPAT.COM- Hampir setiap hari terlihat pemandangan monoton tentang kesibukan orang-orang yang bergegas melakukan segala macam pekerjaan. Semua tak lain tentang deadline, kejar tayang dan segala rupa yang berhubungan dengan waktu.

Pagi, minimal pukul empat dini hari seseorang harus sudah bangun, berbagi tugas dengan pasangan dan menyiapkan segala keperluan sekolah anak-anak sebelum mereka berangkat kerja.

Tak peduli tempat kerja dekat atau jauh, setiap orang seolah terpenjara oleh gaya hidup dan manajemen waktu yang tak bersahabat. Dan hampir di segala lini kehidupan, manusia menggunakan waktu dengan cara yang sama; serba tergesa-gesa, pingin cepat ini, lekas itu dan membiarkan semua syahwat kehidupan saling berdesakan ingin didahulukan.

Di dunia pendidikan khususnya, fenomena ini nampak berseliweran mengganggu pikiran. Ada rasa prihatin melihat anak-anak “dipaksa” belajar dari pagi hingga sore. Belum lagi saat di rumah mereka akan dituntut belajar lagi oleh orang tuanya. Anak-anak itu sudah diperlakukan seperti mesin sedari kecil. Mereka tak punya waktu cukup untuk sekadar bermain. Bahkan, bisa jadi saat di rumah kita tak ada waktu bercengkrama, mengajak mereka bergurau melepas rutinitas. Atau kita memilih tidur cepat demi pekerjaan esok hari, dan meninggalkan anak-anak dengan mainannya. Ah, betapa kejamnya kita.

Dan ternyata bukan cuma pola pendidikan dan cara hidup kita yang ingin serba simpel, cepat dan buru-buru. Lihat saja di beberapa lapak toko buku, begitu berjubel buku tuntunan praktis “Menghasilkan Uang dari Rumah “ Tiga Hari Kuasai Bahasa Asing”, atau “ Cukup Tiga Jam Bisa Baca Qur’an”, “Beli Properti dengan DP 0 Rupiah”, “Cara Cepat Jadi Ustadz”,dan masih banyak lagi buku-buku yang mengindikasikan kita sebagai penyembah waktu dan pemuja materi.

Gaya hidup serba praktis dan terburu-buru memang benar-benar telah mengepung. Kita lebih punya waktu hangout, makan di restoran fastfood lengkap dengan aneka layanan instannya, daripada makan bareng keluarga di rumah. Kita lebih akrab dengan jasa pengantar makan online daripada ribet masak.Tak jarang kita bertengkar hebat dengan istri karena dering telpon tak segera diangkat. Atau bahkan sepasang sejoli bisa memutuskan hubungan hanya karena balasan pesan pendek yang telat. Kebiasaan berebut antri yang buruk hampir kita jumpai di semua ruang publik, bahkan rela bermalam hanya untuk antre mendapatkan diskon gajet terbaru. Belum lagi kedunguan kita saat berkendara. Hampir di setiap trafic light, dengan enteng kita mengumpat bila lampu merah menyala dan memaksanya berubah hijau dengan desing klakson yang kita bunyikan, yang suaranya justru mematikan nalar sehat kita. Belum lagi tabungan dan giro dengan kelengkapan kartu ajaibnya hingga bisa bertransaksi tanpa harus bersentuhan dengan tanah. Bagaimana dengan koleksi dan pundi-pundi materi yang lain? Berapa banyak koleksi rumah dan mungkin juga tempat ibadah yang dibangun hanya sebagai klangenan? Kita singgahi, sejenak merebahkan waktu untuk kembali pergi demi menyembah waktu dan memuja syahwat.

Kita mungkin menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ritual gila menyembah waktu. Dengan segala ketergesaannya, kita seperti tak bisa hidup dan beraktifitas tanpa gawai di tangan, berkumpul tapi ngobrol sendiri dengan orang di seberang dan tak bisa makan jenak karena dikejar tuntutan pekerjaan.

Kita, bisa jadi cemburu melihat saudara-saudara di pedesaan yang bisa hidup sak madya, menjalani hidup penuh kesederhanaan, guyup rukun dengan segala keterbatasan dan tidak pernah merasa dikejar waktu.

Tiba-tiba kita merindukan kehidupan bersahaja orang-orang dahulu yang jauh dari hiruk pikuk dan ketergesaan dalam menjalani kehidupan. Hidup dengan segala keterbatasan tak membuatnya hina. Bekerja dan berkarya merupakan tanggungjawab hidup yang dijalani tanpa mengenal pamrih dan berharap jasa. Mereka lebih bisa menjalani hidup dan merawat kehidupan sebagai harmoni yang indah tanpa merasa dikejar waktu.

Kita hanya rindu dan cemburu, tapi sepertinya kita tak pernah punya waktu untuk berguru, atau barangkali kita termasuk penyembah waktu? /(am)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.